Kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru. Sifatnya sangat pribadi, karena melalui proses kreatif.
Namun, kreativitas perorangan itu tetap terpengaruh oleh interaksi antara individu dan lingkungan dan kebudayaannya. Nah kreativitas perorangan itu dapat pula menghasilkan gabungan kreativitas sehingga menimbulkan hasil yang relatif lebih sempurna. Dalam konteks itulah kreativitas warga untuk memajukan diri dan lingkungannya akan sangat menentukan kualitas kehidupan di Ibu Kota.
Berkaitan dengan kreativitas itu, kita perlu memperhatikan cara berpikir divergen dan konvergen. Berpikir divergen juga disebut berpikir kreatif adalah bentuk pemikiran terbuka, yang menjajagi macam-macam kemungkinan jawaban terhadap suatu persoalan atau masalah. Sedangkan berpikir konvergen sebaliknya berfokus pada tercapainya satu jawaban yang paling tepat terhadap suatu persoalan atau masalah.
Nah, dalam cara mendidik bangsa atau warga kota, seperti dalam pendidikan formal pada umumnya, tekanan utama selama ini adalah berpikir konvergen dan kurang memikirkan berpikir divergen. Misalnya, kemungkinan-kemungkinan jawaban hanya dibatasi satu dari sejumlah pilihan berganda (multiple choice).
Memang tak ada salahnya berpikir konvergen, namun berpikir divergen juga tak boleh diabaikan. Lebih dari itu, kreativitas sesungguhnya merupakan hal yang muncul dari ketekunan, keuletan, kerja keras, dan tidak sekadar mengandalkan inspirasi Itu sebabnya karya kreatif baru bermakna jika mendapatkan pengakuan (penghargaan) oleh masyarakat pada waktu tertentu.
Dalam konteks warga kota dan bangsa, masalah desain, penelitian, dan pengembangan, menjadi bagian tak terpisahkan dari kreativitas ini. Memang, setiap orang memiliki potensi kreatif dalam derajat yang berbeda-beda dan dalam bidang yang berbeda-beda.
Namun, potensi ini perlu dipupuk sejak dini agar dapat diwujudkan. Untuk itu diperlukan kekuatan-kekuatan pendorong, baik dari luar (lingkungan) maupun dari dalam individu sendiri.
Tetapi ini tidak cukup, masyarakat dapat manyediakan berbagai kemudahan, sarana dan prasarana untuk menumbuhkan daya cipta anggotanya, tetapi akhirnya semua kembali pada bagaimana individu itu sendiri, sejauh mana ia merasakan kebutuhan dan dorongan untuk bersibuk diri secara kretif, suatu pengikatan untuk melibatkan diri dalam suatu kegiatan kreatif, yang mungkin memerlukan waktu lama. Hal ini menyangkut motivasi internal.
Berkaitan dengan itu, kita berharap warga kota maupun aparatnya sama-sama kreatif. Hanya dengan itu Ibu Kota Jakarta tetap nyaman dan dapat mengatasi masalahnya dengan baik. Dengan kreativitas tinggi, maksudnya.