Menginformasikan Indoensia Secara Online Indonesia Media Cyber   
Menginformasikan Indonesia Secara Online   
 
Status Mesin Anda :  
  
IP Address Anda : 38.107.191.113  

  

 
| Home | Tentang IMC | Buku Tamu | Kirim Artikel | Download | Hubungi Kami |
 

 
   Beranda
Seputar IMCyber
Download
Web Links
Rubrik

   Interaktif
Kirim Artikel
Kontak Kami
SMS Kami
Buku Tamu

   Berita
Komputer dan Internet
Hukum dan Peristiwa
Bisnis dan Ekonomi
Pendidikan, Seni dan Budaya
Sosial dan Politik
Olahraga dan Otomotif
Sain dan Teknologi
Kesehatan
Bening Hati
Pariwisata
Ragam Kuliner dan Gaya Hidup

   Pesan Singkat
Nama*
Email
Pesan*
*harus diisi

   Statistik Web
  Visitors : 290884 visitors
  Hits : 254894 hits
  Month : 600 users
  Today : 51 users
  Online : 7 users

   


Wawancara Dr dr Siti Fadilah Sp JP (K)
Sabtu, 13 Maret 10 - oleh : Gun

Belum banyak yang mengetahui bahwa Dr dr Siti Fadilah Sp JP (K), Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pernah ditawari menjadi Duta Besar. Namun ia menolak dengan alasan sungkan meninggalkan anak-cucunya di Indonesia. Selain itu, banyak cerita lain di sekitar pusaran politik elite nasional yang menarik. Simak saja wawancara berikut ini:

Bagaimana cerita Anda dari Menteri Kesehatan menjadi Anggota Wantimpres?
Begini. Waktu masih menjadi Menteri Kesehatan, waktu itu 18 Oktober 2009, saya dihubungi oleh Pak Hatta Rajasa (saat itu Menteri Sekretaris Negara). Beliau bilang tidak mungkin berbicara di telepon sehingga saya diminta datang langsung ke Cikeas (kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono).

Apa yang dibicarakan di Cikeas?
Intinya, Pak Hatta menyatakan tim pembentukan kabinet sudah berusaha agar saya tetap menjadi Menteri Kesehatan, tapi resistensinya sangat kuat sehingga akhirnya mereka kalah. Begitu kata beliau. Dalam hati saya bertanya, resistensi dari siapa? Kalau resistensi dari rakyat tentunya tidak. Kalau lihat polling-polling malah saya nomor satu. Lantas saya bertanya ke Pak Hatta, apakah resistensi dari Amerika. Pak Hatta manggut-manggut. Ini Amerika mana, Amerika perdagangan atau Amerika government?

Selanjutnya?
Selanjutnya Pak Hatta menyatakan Bapak (Presiden SBY) menghendaki Ibu menjadi anggota Wantimpres (Dewan Pertimbangan Presiden). Saya juga diberitahu bahwa yang menggantikan saya adalah Nila (Dr Nila Juwita Anfasa Moeloek). Saya bilang saat itu, kalau Nila saya legowo. Sudahlah. Tapi seperti yang kita ketahui bersama, Nila batal menjadi Menteri Kesehatan.

Anda juga bereaksi spontan di depan media...
Ya, saya bereaksi dan disiarkan oleh TV One. Akibatnya ada juga. Ada yang men-suport saya tapi ada juga yang menghubungi saya agar tidak banyak berbicara. Jika saya berbicara terus tentang pengangkatan Menteri Kesehatan yang baru, Komisi Pemberantasan Korupsi akan langsung memeriksa saya. Yang jelas bukan Pak SBY yang meminta saya tidak berbicara. Tapi memang hubungan kami menjadi agak renggang setelah saya berbicara di media. Saya seperti teraniaya waktu itu. Namun dukungan dari orang yang saya kenal dan tidak saya kenal, malah dari anggota masyarakat biasa, silih berganti berdatangan. Itu yang membuat saya kuat. Nah, dalam masa 100 hari pertama pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu II itu juga ada yang menelepon saya menawari jabatan.

Siapa?
Pak Sudi Silalahi (Menteri Sekretaris Negara) menghubungi saya dan menanyakan apakah saya bersedia diangkat menjadi Duta Besar? Rupanya saya mau didubeskan. Saya menjawab tidak akan menolak tugas negara, tapi saya masih memiliki anak dan cucu yang berada di Indonesia. Akan kurang efektif bagi saya jika menjadi Duta Besar. Akhirnya saya ditawari jabatan semula yaitu menjadi anggota Wantimpres, dan saya menyatakan bersedia. Begitulah ceritanya.

Apa saja kegiatan Anda sebagai Anggota Wantimpres?
Tugas Wantimpres antara lain adalah mempertimbangkan dan merekomendasi apa yang baik untuk Presiden, diminta maupun tidak. Presiden memiliki jadwal pertemuan rutin seminggu sekali dengan Wantimpres. Itu sudah berjalan. Kadang-kadang jika Presiden berhalangan, pertemuannya batal. Misalnya ketika waktu Ibunda Presiden (Ny Habibah --Red) sakit, sebenarnya hari itu jadwal pertemuan dengan Wantimpres.

Perbedaan dengan menjadi Menteri?
Kalau menjadi Menteri, turun tangan langsung. Menteri menerapkan program. Programnya jalan atau tidak? Jika tidak jalan, mengapa? Begitulah, kerjanya siang-malam.

Kalau begitu Anda bisa menulis buku lagi ya?
Tugas Wantimpres membatasi saya menulis untuk publik. Sekarang pikiran dan gagasan saya bisa dikemukakan dalam kerangka Wantimpres itu. Tapi, saya terus menulis. Kapan akan diterbitkan untuk publik, ya menunggu waktu.

O ya, bagaimana tanggapan Presiden tentang buku Anda, Saatnya Dunia Berubah: Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung?
Tanggapan lisan memang tidak ada. Tapi sambutan beliau kan sudah ada di buku itu.

Anda berlatar belakang PAN ya?
Salah. Kalau saya orang PAN (Partai Amanat Nasional) cerita saya pasti lain. Saya menjadi Menteri sepenuyhnya dengan latar belakang profesional.Komitmen yang saya pegang adalah perjuangan di bidang kemanusiaan dan keadilan agar Indonesia berdaulat di bidang kesehatan.

Ada yang bilang Anda pernah menjadi dokter jantung Pak SBY. Benar?
Tidak. Ngawur itu ha ha ha. Saya ini memang dokter ahli jantung dan juga menjadi dosen. Tapi saya bukan dokter kepresidenan. Saya belum kenal dengan Pak SBY sebelum beliau menjadi Presiden.

Apakah Anda aktif di organisasi mahasiswa ketika kuliah dulu?
Tidak juga. Saya kuliah kedokteran saja.

Lantas sosialisasi politik apa yang Anda terima di masa lalu?
Kalau boleh diceritakan, saya ini memang masih kerabat Keraton Mangkunegaraan dan memiliki gelar Raden Ayu. Tapi yang lebih penting, ayah saya adalah seorang kyai terkemuka dan sangat mengagumi gagasan-gagasan Bung Karno tentang perlunya kedaulatan dan kemandirian Indonesia. Beliau menjadikan Soekarno sebagai model bagaimana seharusnya menjadi pemimpin. Mungkin tanpa saya sadari, nilai-nilai seperti itulah yang saya terima di bidang politik.

Bagaimana Anda melihat 100 hari Kabinet di bidang kesehatan?
Dari sudut pandang pemerintah ada parameternya. Menurut pemerintah, mungkin sudah bagus. Tapi, masyarakat juga memiliki parameter kan? Untuk mengevaluasi program, pemerintah juga perlu melihat, pertama, bagaimana rasanya. Apakah gongnya terasa oleh rakyat? Kedua, bagaimana arahnya. Arahnya ke rakyat atau tidak? Jadi, pemerintah harus bertanya juga kepada rakyatnya. Misalnya, apakah obat generik masih mudah diperoleh, harganya lebih murah atau lebih mahal? Apakah ruang perawatan kelas 3 masih gratis? Itulah masalahnya. Seharusnya pemerintah yang bekerja tidak ikut menilai.

  kirim ke teman |   versi cetak


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar

 
   
   Pencarian

cari di  
 

   Klik Jika Tertarik
Wawancara Dr Upik Rosalina Wasrin DEA
Sepulang dari Mason Pine
Plesiran ke Pantai Logending Asyiknya Bersanding
Akbar Tandjung Dukung Wacana Penyederhanaan Partai
Pengendara Motor Peringkat Satu Melanggar Jalur Busway

   Jajak Pendapat
Pelayanan Publik di Indonesia?

Parah
Cukup
Baik
Lumayan
Cape deh...


   Kalender
MSSRKJS

   Top Download
AuraCMS (523)
VCD Gear (385)

   Link Terbaru
WartaGlobal.com
[Added: 25-Apr-2009]
yahoo!
[Added: 01-Apr-2005]
google
[Added: 09-Dec-2005]
konfigurasi.com
[Added: 08-Dec-2007]
Tampilkan situs Anda di sini.
» Tambah link baru
» Browse link

   Mau Bikin Website?

Mudah, murah, dan meriah. Kontak saja Sunarya di 081316004549. Ntar Si Gun deh yang bikinin.

   Sindikasi Berita





 

 

| Home | Tentang IMC | Buku Tamu | Kirim Artikel | Download | Hubungi Kami |
Powered by auraCMS v1.62. IMC © 2007-2012, Indonesia Media Cyber bekerja sama dengan WartaGlobal.com dan konfigurasi.com
Artikel adalah properti kontributor, kami tidak bertanggung jawab atas artikel yang tampil di situs ini.
Anda bisa menggunakan sindikat berita dengan format R S S / X M L atau H T M L yang tersedia.